Peta dan Sejarah Desa

Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Bima

Tidak ada sumber primer, baik prasasti ataupun naskah tertulis yang menjelaskan sejarah awal keberadaan Desa Leu. Sejarah Desa Leu hanya dipahami dari cerita lisan yang disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Peta Desa Leu

“>

Terdengar dalam cerita jauh sebelum tahun 1808 Desa Leu berada dalam satu komunitas yang berasal dari suku Melayu, suku asli La Leu dan Suku Asli Komunitas Oi Sanahi, mereka tinggal di atas tanah yang subur, ditengah Perkebunan Rakyat yang tumbuhannya menghijau, dengan hidup rukun dan damai meskipun penduduk dalam kehidupan primitif. Kehadiran Tiga suku ini berbaur dalam membangun peradaban yang islami, dibuktikan dengan adanya satu tumpukan tanah liat (WOTO) sebagai tempat bangunan peribadatan (LANGGA/HIDI SIGI), dalam mereka mengembangkan satu komunitas penduduk yang bernilai Agamis dan tempat komunitas itu sekarang,disebut RASA NTOI (Kampung Lama).

Bukti lain menandakan satu komunitas yang dulunya mendiami wilayahDesa leu sekarang, adalah adanya satu kuburan tua asal suku melayu yaitu kuburan DAENG BAO (sebutan sekarang terkenal dengan RADE BAO),Kuburan ini terletak dan berada di atas bukit kecil sekitar 200 meter dari arah Selatan wilayah kekuasaan Leu Menenggok kembali dari uraian di atas tentang keberadaan satu komunitas dari Tiga suku, yaitu suku melayu ,suku asli La Leu dan Suku Asli Komunitas Oi Sanahi, maka asal-usul penduduk Desa Leu dominan berasal dari suku asli La Leu yang bermukim di Sekitar areal persawahan LA KAMBUWU di bawah kaki gunung MALEME tepatnya dari arah barat komunitas Padende Kecamatan Donggo sekarang.

Kekuatan Adat dan istiadat dalam tingkat kehidupan mereka mengandung Nilai kehormatan yang tulus,ikhlas dan cerdik sehingga di tingkat kehormatan adat dan istiadat di tenggah kehidupan bermasyarakat adalah memiliki sebutan Kehormatan UBADA,UBABA DAN UMABA .

– UBADA  Adalah Umat bagian di atas dengan sebutan Daeng dan Tati.

– UBABA Adalah Umat bagian Bawah dengan sebutan Uba.

– UMABA Adalah Umat Amat Bawah dengan sebutan Ama dan Baba.

Sebutan dan ucapan : DAENG,UBA,AMA dan BABA untuk memuliakan bagi warga dan Komunitas yang tertua lebih-lebih bagi kaum laki-laki yang sudah Kawin dan telah menjadi kepala rumah tangga, hingga sekarang tradisi tersebut masih kuat di pegang teguh oleh masyarakat Desa Leu.

Dalam peradaban selanjutnya (Tahun 1900 – 1913) ucapan kata LA LEU Sudah tidak terdengar lagi di tenggah komunitas penduduk pada masa itu,mereka lebih ringan dan lebih mudah mengucapkan kata LEU ,bila ada komunitas lain yang menanyakan kepada mereka.di lihat dari arti kata;kata Leu yang artinya ayun dan kata AYUN Identik dengan kata pindah (LAO).maka akhirnya kata LEU Bersinar sampai sekarang menjadi nama Desa LEU,Yaitu :Lingkungan Elok dan Unggul.

Wilayah kekuasaan baik meliputi wilayah pemukiman ,wilayah pegunungan wilayah perladangan/tegalan dan wilayah persawahan adalah berbatasan dengan :

  • Sebelah utara : Wilayah kekuasaan Rato
  • Sebelah selatan :wilayah kekuasaan Campa
  • Sebelah Barat: Wiayah kekuasaan Rade dan Tambe
  • Sebelah Timur: Wilayah kekuasaan Timu dan Sanolo

(Batas ini adalah batas sebelum lingkungan Lama (Rasa Ntoi) dengan lingkungan Desa Leu sekarang).Pada tahun yang sama di tenggah kesibukan mencari nafkah: HAMZAH UBA SAMA  memegang kekuasaan komunitas Tahun 1900 – 1913  dan benar – benar memiliki jiwa yang satria (Dou ma mbani ra disa),meminta pada komunitas adat padda masa itu,antara lain : SALE AMA MUNA, SA BIN REBO (ompu cepe weki), GANI AMA SAMA (uba ngao),KAMBOO AMA MINA.SAMA UBA TIMA(usman bin hamzah),AMA BEDA LA WAJA dan lainnya untuk membulatkan mufakat bahwa lingkungan kita:harus berpindah (nggee raka),pada lingkungan yang dekat dengan asset jalan(nggee deni lao ncai bari).Musyawarah itu pun di sepakati dan terjadilah pindah lingkungan lama (rasa ntoi),menuju lingkungan baru yaitu tepatnya pada tahun 1914.Perpindahan penduduk pun ikut mewarnai dalam pemikiran mereka yaitu ada yang pindah keluar Daerah (kampo jompa,kampo bali,dan kampo bada dompu dan lainnya),ada yang berpindah di komunitas kara dan pindah di lingkungan Desa Rasabou hingga sekarang di Desa Rasabou terkenal dengan sebutan douleu ese,dengan intonasi dan ucapan bahasa (sentu) masih mewarnai kehidupan mereka yang identik dengan orang leu dulunya.

Sejalan dengan bersinarnya waktu yang menyaksikan lingkungan Leu berpindah dari permukian lama ( Rasantoi) menuju lingkungan baru,maka kehidupan mereka tidak terlepas dengan kehidupan bercocok tanam dan berladang.di samping itu mereka mencari kesibukan lainnya khusus bagi kaum laki – laki yaitu mencari ikan di Laut secara tradisional (lao moti ra ndala) juga sekali – sekali berburu (lao nggalo)sedangkan bagi kaum wanita mencari kesibukan dengan bertenun secara tradisional (MUNA RA MEDI) dengan mengunakan bahan baku Kapas (WOLO),sampai sekarang di kenal dengan tembe Nggoli dou Leu.

Perilaku Hidup,tradisi dan budayapun tetanam dalam komunitas mereka di mana keabadiaan nuansa budaya dan tradisi terbiasa dalam warna gaya hidup mereka yaitu budaya dan tradisi TEKA LA NDOLI (Mendaki gunung La ndoli),dengan puncak kegiatan tradisi ini selepas mereka menanam padi (MURA RA MBOTO) pada tempat pembibitan (HIDI DEI),mereka segera berhamburan menganti pakaian,guna berbondong – bonding untuk mendaki gunung LA NDOLI yang di iringi dengan merdunya suara Preretan (SARONE) yang di mainkan olah LANDA UBA LA UNU sehingga terkenal dengan UFI TEKA LA NDOLI, Sementara Biola/viol di mainkan oleh LA TANDA UBA YASIN. Budaya ini pun hingga kini masih berbudaya di kalangan masyarakat Leu khususnya dan umumnya masyarakat dana Mbojo tercinta.Setelah berada di puncak la Ndoli mereka mondar-Mandir menikmati sejuknya angin gunung melihat pemandangan Alam yang begitu megah, menenggok kembali tanaman padi yang mereka kerjakan atas azas gotong royong serta menyaksikan dari jauh riuh rendah dan indahnya lautan biru. Tidak lama kemudian mereka berada di atas puncak,datanglah senja yang mau merona merah,membatasi kehadiran mereka lalu mereka turun perlahan-ahan pulang menuju satu komunitas yang mereka tempati.

Demikian tradisi ini dalam cerita.Setalah peninggalan HAMZAH UBA SAMA menjadi kepala lingkungan Komunitas sebelum pindahnya lingkungan lama ke lingkungan baru di lanjutkan oleh SALEH AMA MUNA sebagai kepala lingkungan pada masa itu dan setelah pindahnya lingkungan ke lingkungan baru tahun 1914 terangkatlah AMA BEDA LA WAJA (1930-1942).

Dengan bertepatan adanya angin segar terwujudnya kemerdekaan Negara republik Indonesia Tahun 1945 terangkatlah KAPALA LA HUSE Dengan pusat pemerintahan di rumahnya sendiri.

Atas rahmat dan ijin Allah Swt Desa Leu terbentuk pada Tahun 1948 di Bawah kepemimpinan H.ISHAKA,Seiring dengan itu dalam kepemimpinan yang sehat dan jernih Kepala Desa bersama Punggawa dan Pamong Desa menperjuangkan lingkungan Kara masuk menjadi bagian dari wilayah Desa Leu karena di mana keberadaan Lingkungan Kara sebelumnya masih berkomunitas sendiri dengan batas Desa sebagai berikut :

  • Sebelah Utara             : Desa Kananga
  • Sebelah Selatan          : Desa Campa
  • Sebelah Barat             : Desa Rato
  • Sebelah Timur            : Desa Timu

Selayang pandang Desa Leu baik sebelum maupun sesudah sempurna terbentuknya lingkungan menjadi Desa terjadi dalam satu catatan lembaran sejarah dan terukir dalam sehelai profil (wajah Desa) Desa Leu mengalami musibah kebakaran yang luar biasa yang menbuat penduduk pada masa itu memiliki rasa kesedihan yang cukup lama yaitu di mana perumahan tempat tinggal mereka yang hangus terbakar di lalap api, ibaratkan kehidupan mereka bagaikan kemarausetahun terhapus oleh hujan sehari.Pemukiman dan lingkungan yang mengalami musibah kebakaran itu terkenal dengan nama lingkungan /Kampung Mudu (KAMPO MUDU) sampai sekarang ini.

Merujuk dari beberapa bunyi Undang-undang Desa dan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bima Tentang Pemekaran bagi Pemukiman dan Lingkungan yang pelayana pemerintahannya jauh dari Desa induk maka Dusun Kara menjadi Desa pemekaran Kara pada Tahun 2012.

Mengiringi mekarnya Dusun Kara menjadi Desa Kara maka Batas Desa Leu pun ikut berubah Yaitu:

  • Sebelah Utara             : Desa Kananga
  • Sebelah Selatan          : Desa Kara
  • Sebelah barat              : Desa Rato
  • Sebelah Timur            : Desa Timu

Demikian selayang pandang profil Asal usul Desa Leu yang terlatak 1 Km dari jantung ibu kota Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Santabeta Warasi Komentar ro Masukan...