Sanggar Budaya “La Barasi” Desa Leu Tampilkan Kesenian Patu Mbojo dalam Gelar Budaya Festival DBIP Nasional

Pada masa lalu, masyarakat Bima menyampaikan isi hati dan pesan pesan melalui patu mbojo yang diungkapkan secara spontan dan menarik. Patu mbojo sering dilantunkan dan diucapkan pada saat saat menanam dan panen, pengantaran mahar dan hajatan-hajatan warga.  Di dalam patu mbojo juga diselipkan pesan pesan yang menggugah semangat kegotong royongan dan semangat membangun di tengah-tengah Kehidupan Sosial Kemasyarakatan di Desa…

Leu.desa.id —Tulisan Diatas adalah sebagian dari Narasi yang dibacakan pada awal Pementasan Sanggar Budaya La Barasi dalam acara Gelar Budaya Festival Desa Benderang Informasi Publik (DBIP) di Hotel Lombok Raya, Mataram (28/11). Desa Leu sebagai salah satu Desa Model Desa Benderang Informasi Publik diberikan kepercayaan untuk beraprtisipasi dalam Lomba Gelar Budaya yang diselenggarakan oleh Komisi Informasi (KI) NTB mewakili Kabupaten Bima.

Baca Juga : Desa Leu Ikut Festival DBIP NAsional NTB 2017

Festival DBIP Nasional Tahun 2017 inimemiliki agenda besar untuk mengkampanyekan keterbukaan informasi publik agar keterbukaan informasi bisa sampai ke masyarakat yang ada di desa-desa. Festival Desa Benderang informasi Publik 2017 juga  menghadirkan sedikitnya 5 ribu peserta dari Pihak Pemerintah Desa Seluruh Indonesia. Panitia  juga melibatkan banyak elemen lain selain pemerintah desa. Seperti LSM, organisasi kepemudaan, organisasi perempuan, perguruan tinggi, mahasiswa, OPD lingkup Pemrop NTB, pemkab dan berbagai elemen lainnya.

Sanggar Budaya ‘La Barasi” saat Tampil di acara Gelar Budaya Fstival DBIP Nasional, NTB Tahun 2017

Gelar Budaya sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan  Festival Desa Benderang Informasi Publik Nasional yang diselenggarakan Oleh  Komisi Informasi (KI) NTB. Dalam Gelar Budaya ini, 16 Desa Model BDIP di berikan kesempatan untuk Menampilkan Kesenian Masing-masing Desa yang bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan Informasi kepada masyarakat. Pada Pegelaran ini, Masing-masing Desa Model menampilkan atraksi kesenian dan budaya  yang ada di Desa masing-masing.

Patu Mbojo, Media Hiburan dan Edukasi yang tak lekang oleh Jaman…

Ramlah dan Burhan, Anggota sanggar Budaya La Barasi Desa Leu. Ini adalah Penampilan mereka membawakan Patu Mbojo yang diringi oleh Musik Tradisional Bma dalam Acara Gelar Budaya FDBIP

Sanggar Budaya “La Barasi” Desa Leu yang dipimpin oleh Bapak Lukman AB membawa Nuansa berbeda dalam pegelaran  Budaya kali ini.  Dalam Penampilannya, Tim Kesenian  yang mewakili Kabupaten Bima ini menampilkan Patu Mbojo yang diringi oleh musik tradisional Bima, yaitu gendang, gong, sarone, katongga, dan gambus. Sementara Isi atau Kandungan Patu Mbojo (Pantun Bima) yang dibawakan berisi materi informasi, promosi dan edukasi tentang pembangunan dan Kegiatan social kemasyarakatan di Desa Leu. Secara keseluruhan, Isi (tema) pantun tetap mengacu kepada pesan yang dikandung kata kata di setiap baris, baris baris setiap bait, dan keseluruhan masing masing bait.

‘Sejak dulu, Patu Mbojo bukan sekedar senandung yang dilantunkan bersama iringan alat music Biola dan Gambo, namun telah berkembang menjadi media penyampaian pesan-pesan moral dan agama. Bahkan di Desa Leu telah menjadi media penyampaian pesan-pesan pembangunan untuk menggugah semangat cinta tanah air dan semangat kegotong royongan serta kebersamaan. Patu Mbojo dan Ndiri Biola adalah tradisi yang telah Lama menjadi media hiburan sekaligus media penyampaian informasi pembangunan di tengah masyarakat Bima”Terang Lukman AB.

 

Sanggar Budaya “La Barasi” Desa Leu..

Sementara itu, Kepala Desa Leu, Muhammad Taufik, S.Ag menjelaskan bahwa Patu Mbojo (Pantun Bima)  adalah jenis sastra lisan Bima yang masih berkembang sampai sekarang, dari pelosok desa sampai masyarakat kota. Dalam proses sosialisasi masyarakat, seperti acara perkawinan, menanam padi atau menanam bawang dan kegiatan lain yang menyangkut hiburan masyarakat, pantun Bima memiliki porsi tertentu. Dalam syair Rawa Mbojo (Lagu-lagu berbahasa Bima)  yang menggunakan biola, gambus, atau gabungan biola dan gambus, biola ketipung, syair lagu yang mereka gunakan adalah pantun.

Pantun Bima hadir bersama masyarakat pendukungnya, meski tiidak diketahui siapa penggagas dan pengucap pertama karena bentuknya lisan yang telah dikatagorikan sebagai sastra lisan. Namun demikian, amanah yang diemban tetap berpegang kepada prinsib “milik bersama dan diwariskan secara turun temurun”. Isinya dihayati, dipahami dan dilaksakan sesuai pesan tersirat dan tersurat.

Dalam Lomba “Gelar Budaya” pada festival DBIP Tahun 2017 ini, Tim Kesenian La Brasi Desa Leu mendapatkan Juara 3 dari 16  Tim kesenian yang ikut.  Di urutan Pertama ada Tim Kesenian dari Kabupaten Sumbawa, dan di urutan Kedua dari Desa Rarang Selatan , Kabupaten Lombok Timur.

“Alhamdulillah, Penampilan Tim Kesenian dari Desa Leu mendapatkan sambutan Hangat dari Penonton dan Dewan Juri.  Apapun Hasil akhirnya, saya kira yang terpenting adalah kita telah mengenalkan Seni dan Kebudayaan Lokal kita kepada Seluruh Peserta dan Tamu yang hadir. Bangga rasanya mewakili Kabupaten Bima, mewakili Budaya Mbojo kita dalam Acara sebesar ini.”Tutup Kepala Desa Leu.

Selain Gelar Budaya, Desa Leu juga mengikuti Perlombaan Cerdas Tangkas yang diselenggrakan oleh Komisi Informasi (KI) . Perlombaan ini pesertanya adalah PPID Desa  di 16 Desa Model DBIP NTB dimana tujuan lomba adalah untuk menguatkan pemahaman tentang keterbukaan Informasi Publik di Lingkup Pemerintahan Desa.

Facebook Comments

1 Comment

Santabeta Warasi Komentar ro Masukan...