“Budaya Rimpu yang Bangkitkan Rindu”, Pengrajin Tenun Tradisional Desa Leu ikuti Pawai Rimpu dan Katente.

LEU.DESA.ID – Ragam warna kain nggoli yang membalut tubuh ratusan perempuan dalam acara Pawai Rimpu dan Katente Tembe dalam rangka Peringatan Sumpah Pemuda dan Festival Seni Budaya (FSB) Pelajar Tahun 2017 di Kecamatan Bolo, Jum’at sore (20/11) menjadi Tanda bangkitnya semangat Masyarakat Sila dan sekitarnya terhadap Budaya Rimpu yang seakan akan mulai hilang ditelan oleh zaman. Cara Berpakaian Tradisional dou Mbojo ini pun seakan hidup kembali  dan hadir dalam semangat baru, semangat dan cita cita untuk melestarikan Budaya bernuansa Islam.

 

Pengrajin Tenunan Tradisional Desa Leu mengikuti Pawai Rimpu

Pawai Budaya Rimpu sore tadi seakan mampu membangkitkan rindu warga Sila dan sekitarnya untuk kembali mengenakan tenunan khas Bima, hal ini terliha jelas dari raut wajah semangat dan ceria peserta, walaupun terik siang menemani perjalanan peserta disepanjang rute Pawai dari Lapangan Fajar Desa Tambe menuju Paruga Na’e Sila di Desa Kananga.

“suasana seperti ini yang kami rindukan, bagaimana perempuan Bima dulunya dengan mudah ditemui memakai rimpu dalam kesehariannya, beraktifitas sehari hari” kata Hadneh, seorang peserta pawai dengan senyuman.

Pengrajin Tembe Nggoli  Desa Leu ikut Semarakkan Pawai Rimpu dan Katente

Dalam Rangka memperingati Sumpah Pemuda  ke 89, Tahun 2017 Pemerintah Kecamatan Bolo bekerja sama dengan  Lingka Seni Budaya (LSB) Mbojo dengan komunitas komunitas kepemudaan yang ada di Sila mengadakan Pawai Rimpu dan Katente Tembe. Pawai Rimpu dan Katente Tembe ini sendiri merupakan bagian dari acara Festival Seni dan Budaya Pelajar rencananya akan digelar pada tanggal 20 – 23 Oktober di Paruga Na’e Sila kecamatan Bolo dimana Pesertanya adalah dari Instansi dan pemerintah Desa serta sekolah sekolah yang ada di kecamatan Bolo, madapangga dan Donggo. Pawai yang dimulai sekitar Pukul 14.00 WITA mengambil Start di Lapangan Fajar Desa Tambe dan Finish di Paruga Na’e Sila, di Paruga Na’e Peserta diterima Oleh Ibu Camat Bolo, Mardianah, SH, Kapolsek  dan Danramil Bolo serta Tokoh Agama  dan Tokoh Masyarakat setempat.

Kegiatan FSB ini sendiri rencananya akan diikuti oleh Pelajar dari sekolah sekolah yang ada di lima kecamatan yakni Bolo, Woha, Madapangga , Donggo dan Soromandi. Menurut Ketua Panitia, De Tary kegiatan semacam ini  memiliki tujuan untuk mempertahankan dan melestarikan seni dan budaya Bima agar tak luntur dimakan zaman.

“ Ini akan menjadi ajang bagi  pra Pelajar untuk unjuk kemampuan dan bakat serta minat mereka dalam upaya melestarikan seni dan budaya mbojo (BIMA). Mari kita sama sama terus menggelorakan semangat berbudaya dengan terus melakukan gerakan secara massive, salah satunya ya dengan kegiatan FSB ini” terang de Tary

Sementara itu, Sebagai bentuk dukungan terhadap Acara FSB ini, Pmeerintah Desa beserta TP PKK  Desa Leu ikut menyemarakkan Pawai Rimpu dan Katente sebagai Acara pembuka Festival. Kepala Desa juga mengajak dan mengikutsertakan Puluhan Pengrajin Tenun Tradisional Tembe Nggoli  yang ada di Desa Leu pada kegiatan Pawai.

“Rimpu dan katente merupakan Tradisi dan Budaya yang telah diwariskan dari Generasi ke Generasi.  Desa Leu  sendiri merupakan salah satu sentra Kerajinan Tenun Tradisional di kecamatan Bolo yang masih bisa bertahan dari gempuran perubahan zaman. Seyogyanya adalah tugas kita bersama mempertahankan dan mengenalkan khasanah budaya tradisional kita ke luar. Saya mengapresiasi kegiatan ini, terima kasih banyak kepada adik adik dan teman teman panitia pelaksana” Ungkap Kepala Desa Leu

Ditanya tentang Keikutsertaan para Pengrajin Tenun Tembe Nggoli, Kepala Desa menyatakan bahwa itu merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap para pengrajin. Semoga dengan ikut serta dalam kegiatan ini, kegairahan masyarakat dan pengrajin sebagai pelaku utama pelestarian “Tembe” di dana mbojo bisa bertambah. Terkait Usaha Kerajinan Tenun ini, Kepala Desa menerangkan bahwa Pendampingan dari Desa akan tetap dilakukan, sehingga Kerajinan rumahan ini bisa tetap bertahan dan tetap menjadi salah satu Pendukung EKonomi Keluarga di Desa.

Untuk dketahui, ditengah penurunan minat masyarakat terhadap pemakaian Rimpu, Pembuatan tembe nggoli seperti yang dilakukan di Desa Leu masih bisa bertahan. Aplikasi yang luas, di antaranya untuk keperluan sarung beribadah atau sarung sehari-hari, masih menghidupkan permintaan tembe nggoli. Bahkan, tembe nggoli juga kerap dikombinasikan dalam busana rok, selendang, atau baju perempuan.

“Bagi Pengrajin Tenunan di Desa Kami, jarang ada stock (Hasil tenunan) yang menumpuk, Stok bahkan sulit dipenuhi jika ada kegiatan kegiatan seperti ini. Kita berkaca pada festival Tambora menyapa Dunia Tahun 2015 dan Festival Pesona Tambora 2016 dan 2017 di Kabupaten Dompu, Permintaan Akan Tembe Nggoli begitu besarnya, bahkan Pengrajin di Desa Leu sempat Kewalahan menyediakan Tembe Nggoli. Saya berharap Kegiatan semacam ini akan terus dilaksanakan oleh Pemerintah dan Komunitas komunitas Lainnya” Tutup Kepala Desa

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Santabeta Warasi Komentar ro Masukan...