Lingkungan Kampo Mudu, Sentra Kerajinan Bedek Bambu Desa Leu

Bambu merupakan bahan lokal yang sudah sangat dikenal di Indonesia, khususnya bagi penduduk yang tinggal di pedesaan, tanaman bambu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan berbagai kegiatan sehari-hari masyarakat.Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penggunaan bambu pada berbagai keperluan masyarakat sejak zaman nenek moyang kita. Bambu banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pembuatan perkakas dapur, bahan pembuatan aneka keperluan pertanian, bahan bangunan, bahan kerajinan dan lain-lain. khusus Di Kabupaten Bima, Potensi bambu begitu melimpah, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai kerajinan yang bernilai ekonomis oleh masyarakat. Potensi kerajinan tangan ini bila dikelola dengan baik bisa menjadi industri ekonomi kreatif  rumah tangga. Salah satu contohnya adalah  kerajinan anyaman “Bedek” bambu di desa Leu, Kecamatan Bolo tepatnya di Lingkungan Kampo Mudu Dusun Melati.

Lingkungan Kampo Mudu yang terletak di Dusun Melati Desa Leu terkenal sebagai salah satu pusat kerajinan anyaman bambu bedek di Kabupaten Bima. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Dusun ini adalah sebagai Petani dan pengrajin anyaman bambu. Hasil kerajinan anyaman bambu yang terkenal dari desa ini adalah bedek. Desa Leu sejak 50 tahun lalu telah menghasilkan kerajinan anyaman bambu “bedek” yang produknya sudah banyak dimanfaatkan oleh warga kabupaten dan Kota Bima, Bahkan sampai ke Kabupaten Dompu Dan Sumbawa Besar.

Puluhan kepala keluarga yang menetap disini sampai sekarang masih setia menekuni hidup menjadi pengrajin bedek. Hampir di setiap rumah di dusun ini, dengan mudah ditemukan pengrajin yang sibuk menganyam bambu di halaman rumah dan ruang tamu.Semuanya sangat terampil karena memang kerajinan membuat bedek dari bambu ini sudah dilakukan secara turun-temurun oleh Warga setempat.

Bedek adalah anyaman bambu yang banyak dijumpai pada bangunan pemukiman sebagai dinding, sekat, pintu, dan langit-langit. Bedek yang khas dan kaya variasi dibuat dari berbagai jenis bambu. Sekalipun pada umumnya, hampir semua bambu dapat digunakan untuk anyaman, tetapi di Desa Leu pada umumnya menggunakan bambu tali (Gigantochloa apus) untuk membuat bedek.

Produk anyaman Bedek bambu dapat digunakan untuk berbagai keperluan rumah dan bangunan baik yang bersift dekoratif maupun fungsional. Produk anyaman Bedek  bambu dapat digunakan untuk beberapa keperluan sebagai berikut :

  1. Plafon / langit – langit ruangan
  2. Dinding
  3. Pembatas Ruangan

Produk anyaman Bedek bambu paling banyak digunakan sebagai plafon bangunan. Jika dibandingkan dengan plafon asbes, plafon anyaman bambu memiliki berbagai kelebihan antara lain Motif yang unik menarik dan memberikan kesan dekoratif bagi ruangan di samping itu plafon dari bedek bambu dapat memberikan Sirkulasi udara yang baik sehingga ruangan terasa sejuk dan yang paling penting adalah Awet dan kuat hingga puluhan tahun.

Sedangkan Pemanfaatan Dinding bedek pada umumnya dijumpai pada rumah sederhana ataupun Warung Makanan, selain itu bedek hasil kerajinan pengrajin di Desa Leu biasa digunakan oleh Petani Garam untuk membuat Gudang penyimpanan sementara Garam  Hasil Produksi . Bedek dipakukan pada rangka kayu atau bambu, dengan sisi kulit yang keras dan tahan terhadap cuaca dihadapkan ke luar rumah, sedang bagian lunak menghadap ke dalam. Sedangkan Untung Pemanfaatan sebagai Langit langit atau Plafon, Biasanya menggunakan Bedek dari Kulit Luar yang keras (Hidi)

Menurut penuturan Abdul Azis (43) Kepala Dusun Melati yang kebetulan penduduk asli kampo Mudu, mengungkapkan bahwa penduduk Leu Mudu sudah sejak tahun 1970 menggeluti bisnis “bedek”.    Abdul Azis melanjutnya bahwa Produksi Anyaman Bedek biasa dilakukan sepanjang Tahun, akan tetapi geliat produksi akan lebih terlihan pada saat Jeda antara Musim Tanam dan Panen. Ditambahkan, pengrajin bedek di Kampo Mudu secara Umum memproduksi dua jenis bedek. Terbuat dari kulit atau punggung bambu (Hidi O’o)  dan bagian dalam disebut Rimpi. Harga bedek kelas I yakni terbuat dari kulit atau punggung bambu ukuran 1.6 X 1.6 meter perlembar seharga Rp 60 ribu. Sedangkan bedek kualitas II terbuat dari bagian dalam bambu ukuran sama sebanyak seharga Rp 15 ribu perlembar.

 

Biasanya yang membutuhkan bedek dalam jumlah banyak adalah proyek-proyek Perkantoran, sekolah, maupun perumahan pribadi. Penggunaanya bervariasi, Biasanya dipakai bedek untuk bangunan sementara. Sedangkan Khusus bedek dari kulit bambu kebanyakan digunakan untuk plafon.” Ungkap Abdul Azis.

Proses Produksi

Penduduk Kampo Mudu, baik itu Pria dan Wanita, tua muda, hampir semuanya menguasai teknik teknik produksi anyaman “bedek”, Akan Tetapi Biasanya para Wanita lebih banyak berperan pada proses pengayaman atau Ngana Rimpi  (Bahasa Bima ; Anyam=ngana), selebihnya adalah Tugas Para Lelaki seperti pengambilan bambu, pembilahan, penjemuran dan penjualan.

 

Dari serangkaian proses membuat kerajinan tersebut, ada pekerja yang dibayar hanya untuk memotong bambu dan menganyam. Di Kampo Mudu, seorang warga tidak hanya terampil mengerjakan satu bagian produksi saja, dia bisa saja mengerjakan produksi yang berbeda Tergantung untuk siapa dia bekerja.  Ada yang bekerja untuk diri sendiri sampai karyanya dijual. Ada juga yang bekerja kepada orang lain, misalkan sebagai buruh menganyam bambu untuk menjadi bedek. . Untuk pekerjaan peliningan (Bahassa Bima; pina o’o) biasanya diberikan upah sebesar rp 30 ribu setengah hari, dengan hasil yang didapat bisa membuat anyaman bedeg 6 sampai 7 lembar, kemudian untuk pekerja anyaman biasanya dikenakan tariff Rp 2 ribu perlembar bedeg Tetapi adakalanya pekerja merupakan satu keluarga, dan seluruh anggota keluarga memiliki tugas masing-masing, dimulai dari pengambilan bambu, pembilahan, penjemuran, sampai proses penganyaman

Menjadi seorang pengrajin besek dan bedek, ada beragam proses yang harus dituntaskan. Mulai menebang bambu, memotong, membelah menjadi irisan tipis, dijemur, baru kemudian dianyam.

Pengerjaan bedek di Desa Leu masih dilakukan secara tradisional. Bambu panjang dipotong memakai parang atau Gergaji sepanjang 1,5 dan 2 meter. Sesudahnya bambu tersebut dipisahkan satu persatu dan diiris hingga tipis agar mudah dianyam. Potongan bambu dijemur sehari hingga dua hari di terik matahari.

Berikut Garis Besar Proses Pembuatan Anyaman Bedeg Bambu :

  1. Bambu ditebang dari pohonnya, dicari yang batangnya kira-kira sudah tua dan tebal.Masing-masing dipotong pangkalnya sepanjang ±30 cm untuk menghilangkan bagian batang bambu dengan ruas yang tidak beraturan.
  2. Batang bambu tersebut dipotong-potong dengan panjang yang sama, misalnya untuk membuat bedek ukuran 3×3 meter, bambu dipotong dengan ukuran 3 meter.
  3. Batang bambu yang akan dibelah diukur diameternya dan tebal dindingnya.
  4. Batang bambu dibelah menjadi empat bagian, kemudian dilakukan peliningan (bahasa Bima ; Ti’a O’O), yaitu bambu dibelah-belah lagi menjadi beberapa bagian dengan ukuran yang sama menggunakan alat belah bambu.
  5. Setelah itu, dilakukan pengiratan ( Bahasa Bima ; Pina O’o), yaitu belahan bambu tadi dibelah atau dikirat setipis mungkin agar mudah untuk dianyam. (Banyaknya bilah bambu yang dihasilkan tergantung dari besarnya diameter bambu yang dibelah).
  6. Bilah bambu dibuat setipis mungkin, Bilah bambu dijemur dibawah sinar matahari sampai kering agar tidak lembab dan berjamur.
  7. Bilah bambu dijejerkan dan disusun terlebih dahulu sebelum dianyam, kemudian dianyam secara manual sesuai motif yang diinginkan.
  8. Untuk motif anyaman, digunakan bilah bagian luar bambu tali dengan warna hijau alami, atau digunakan bambu wulung untuk warna hitam alami.

Penjualan:

Karena sudah terkenal sebagai sentra Pembutan anyaman Bedeg di Kabupaten Bima, Banyak Pembeli dari luar Kecamatan Bolo bahkan dari Kabupaten Dompu dan Sumbawa selalu datang membeli kerajinan tangan ini. Disamping itu, sudah banyak Pengrajin yang langsung membawa Bedek ini ke Daerah yang mebutuhkan untuk dijual dalam jumlah yang banyak.

Bedek hasil produksi Desa Leu berukuran seragam dengan panjang 1,6 meter dan lebar 1,6 meter. Namun ada juga yang menganyam sesuai ukuran yang diminta pembeli dengan tambahan biaya. Untuk bedek biasa (Dari lapisan Lunak Bambu), pengrajin melepasnya dengan harga 15 ribu rupiah perlembar sementara untuk bedek dengan kualitas bagus ( menggunakan Kulit Luar yang Keras ) dihargai 65 ribu rupiah.

Sebagai gambaran, untuk sebuah rumah berukuran panjang 7 meter dan lebar 5 meter dibutuhkan 22 lembar bedek sebagai dinding. Bedek pun bisa dicat beraneka warna setelah dianyam atau di jadikan dinding. Agar lebih kuat dan terlihat rapih bedek dipaku di kayu dengan dilapisi bambu belah di sisi pinggirnya.

Salah satu Pengrajin Bedek di Lingkungan Leu Mudu  adalah Dae Teo (62) dan Ma Osi (60) pasangan suami isteri yang tetap setia menekuni pekerjaan ini. Saat ditemui  di rumahnya, Dae Teo sedang membelah bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea), istrinya asyik menganyam dan seorang pekerja harian yang sedang mengiris bambu panjang yang baru dipotongnya.

“Kami sejak kecil sudah menganyam bambu. Pekerjaan ini diwariskan turun temurun. Memang tidak semua, tetapi setiap keluarga pasti ada yang jadi pengrajin bedek,” ujarnya.

Ketika ditanya tentang Bahan Baku yakni Bambu Tali atau wuluh, Dae Teo menjelaskan bahwa sekarang kebutuhan bahan baku Bambu didapatkan dari Luar Desa Leu, ada yang dari desa lain di kecamatan Bolo, tetapi ada juga yang didapat dari kecamatan lainnya, seperti Madapangga dan Donggo.

Dae Teo dan pengrajin lainnya di Lingkungan ini meyakini, warisan leluhur ini merupakan garis tangan, sebuah bekal hidup. Ibaratnya dengan hanya melihat dan belajar sebentar dari orangtuanya, mereka bisa terampil menganyam.

Facebook Comments

1 Comment

Santabeta Warasi Komentar ro Masukan...